In 1994, a group of Belgian travellers met to share experiences from the road. They worried about the negative impact of mass tourism on the environment and local people, and shared ideas of sustainable tourism respectful of nature and culture. The dream to set up cafes around the world to implement their ideas developed. The first ViaVia opened in 1995. Today the ViaVia family stretches across 12 establishments on 4 continents.
Each ViaVia is set up in synch with its unique local environment. There is no such thing as a McViaVia witah fries. Instead ViaVia offers the best of World Kitchen and local delicacies. Whereas ViaVia in Argentina offers Tango lessons, ViaVia in Jogja offers trips to a Javanese village, religion tours or a taste of traditional medicine, Jamu. Whereas ViaVia in Senegal works together with street children.
ViaVia in Jogja offers art space to young local artists. ViaVia is also often the venue of concerts, Friday night Jazz, performance art, film festivals and debates. Parts of the ViaVia profits go to support educational, social and cultural projects in Jogjakarta.
________________________________________
Pada tahun 1994, ViaVia pertama kali dibentuk oleh beberapa orang Belgia yang merasa resah dan khawatir tentang pariwisata massal yang berdatangan ke tempat obyek wisata yang jarang dijamah dan dikunjungi. Menurut pendapat mereka hal tersebut lambat laun akan merusak budaya daerah setempat. Dari situlah muncul sebuah ide dengan membentuk sebuah tempat yang berkonsep sharing atau meeting place berbagai budaya dari seluruh penjuru dunia. Atau dengan kata lain sebagai tempat pertemuan orang-orang dari kebudayaan yang berbeda untuk saling tukar pendapat, tukar pengalaman, tukar ide dll.
Setelah kelahiran ViaVia yang pertama di Belgia, kemudian bermunculanlah ViaVia lain yang sekarang sudah tersebar di 12 tempat di 4 benua. (ViaVia di Jogja sendiri berdiri tahun 1995). Setiap ViaVia mempunyai aktifitas yang sangat khas, sesuai dengan budaya lokal masing-masing. Misalnya ViaVia Jogja mempunyai aktifitas perjalanan wisata yang salah satunya adalah tur jamu. Selain itu juga memberi kesempatan bagi para seniman untuk memamerkan karyanya, untuk pemutaran film, debat dan diskusi. ViaVia Argentina terkenal dengan kelas dansa tango dan ViaVia Senegal bekerjasama dengan anak-anak jalanan. Walaupun ViaVia mempunyai aktifitas yang berbeda, tapi tetap berpegang pada satu konsep: ViaVia percaya pada potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Dengan demikian ViaVia sedikit banyak membantu mempertahankan budaya lokal pada masing-masing negara.
ViaVia juga tidak hanya berpikir mencari keuntungan semata, karena sebagian dari keuntungan tersebut dipergunakan ViaVia untuk mendanai berbagai macam proyek sosial, pendidikan dan kebudayaan.
ViaVia memang dirancang sebagai tempat pertemuan yang mempunyai cita rasa khas kedaerahan setempat, tanpa meninggalkan kualitas internasional. Maka di ViaVia, kita tidak akan menemukan satu cita rasa karena ViaVia adalah bukan "Mc" ViaVia.
ViaVia Jogja
BAHASA INDONESIA
“Javanese Masks”
Pameran Tunggal Oleh Robet Kan, dkk
26 Mei-10 Juni 2012
Pembukaan: Sabtu, 26 Mei 2012
19.00 s/d selesai
ViaVia Travelers Cafe, Prawirotaman 30 Yogyakarta
Pengisi Acara : Dance Mask
Javanese Masks atau Topeng Jawa sebagai sebuah tema pameran kali ini diusung oleh Robet Kan, seorang seniman yang terbiasa mengangkat tema-tema tradisional Jawa, khususnya Yogyakarta yang digabungkan dengan tema yang relevan pada saat ini. Ketertarikan terhadap topeng sendiri telah lama dirasakan oleh Robet. Menurutnya Topeng adalah cerminan karakter manusia dalam berbagai ekspresi. Satu orang dapat dibedah menjadi berbagai macam karakter topeng, dari baik hingga jahat. Ketertarikan terhadap Topeng Jawa kemudian membawa Robet untuk menggali lebih dalam tentang sejarahnya. Ia kemudian melakukan riset/penelitian dengan mendatangi pengrajin topeng di Desa Krebet dan Desa Diro yang dikenal sebagai Desa pengrajin topeng. Salah satu yang sangat diingat oleh nya dan membuatnya semakin tertarik pada topeng adalah ketika ia bertemu dengan Warsana. Dia pengrajin topeng yang juga cucu salah seorang Empu (pembuat) Topeng tradisional yang pertama bernama Warno Waskito. Warsana lah yang kemudian menceritakan kepada Robet tentang pakem (aturan) dan sejarah topeng dari awal mula dibuat. Pada kurun waktu tahun 1755-1792, topeng hanya digunakan untuk pementasan tari di dalam keraton dengan lakon Ramayana atau Mahabarata, seiring perkembangan jaman, pementasan tari topeng bisa dilihat dan berkembang diluar Keraton hingga kini. Dan kini, topeng tidak hanya dipakai dalam pementasan tari, namun juga berkembang menjadi benda pajangan.
Untuk mendokumentasikan itu semua, Robet akan memamerkan karya topeng tradisional dari Empu Topeng pertama (yang masih sesuai pakem Jawa) tersebut, dan menyandingkannya dengan karya topeng modern. Ia mengajak teman-teman pengrajin topeng yang lain untuk berkolaborasi membuat topeng dan lukisan dengan interpretasi mereka sendiri, menggunakan material yang berbeda dari yang biasa digunakan. Pameran ini sendiri akan menjadi sebuah kesatuan dengan menggabungkan karya topeng tradisional-modern, lukisan, mural, instalasi, berupa adegan-adegan dalam tari tradisional yang dapat dilihat oleh pengunjung. Pameran ini diharapkan dapat memberi pengetahuan lebih bagi kita, khususnya dalam melestarikan budaya tradisional agar tidak punah. Pameran akan dibuka oleh performance dari kelompok dari tari Topeng tradisional-modern yang akan merespon ruangan dan pengunjung pada saat pameran berlangsung.
Seniman yang terlibat dalam kolaborasi: Didit, Dipta, Yundi Pra, Huluk, Warsana, Heri Tjo, Ambar,
Greg, I Made Sadnyana, Karyadi, Anto.
ENGLISH
“Javanese Masks”
Solo Exhibition by Robet Kan Feat. Friends
26th May-10th June 2012
Opening Ceremony: Saturday, May, 26th 2012
7.00 pm-till end
at ViaVia Travelers Cafe, Prawirotaman 30 Yogyakarta
Opening Act by: Dance Mask
Artist Robet Kan often addresses topics within traditional Javanese culture in combination with contemporary issues. His interest in Javanese masks dates back a long time, and he is especially drawn to masks by how they depict different expressions of human characters, from good to evil.
His interest in masks led him to research history and culture in the Brebet and Diro villages near Jogjakarta, famous because of their mask makers. It was the home of legendary mask maker Warno Waskito. His grandson Warsana shares the history of Javanese masks with Robet, explaining how from 1755 – 1792 masks were only used in dance performances within the Royal Palace like Ramayana and Mahabarata, however since then the mask has moved outside of royal courts and evolved from requisites in dance to decorative display.
To document the history of the masks, Robet starts with the traditional masks of the original masters and compares them with modern masks. He has invited his friends who are mask makers to collaborate by making masks and paintings adding their own interpretations, using whatever materials they are familiar with. The result is an exhibition that combines the traditional with the modern through paintings, murals, installations and dance requisites. The objective is to share knowledge about cultural history and to defend tradition.
The exhibition will be opened by a dance performance with traditional and modern masks that will engage directly with the space and the audience.
The artists involved in the collaboration are Didit, Dipta, Yundi Pra, Huluk, Warsana, Heri Tjo, Ambar, Greg, I Made Sadnyana, Karyadi and Anto.
Rennie “EmonK” Agustine
ViaVia Cafe&Alternative Art Space
Dear fellow journalists,
If you haven’t got any email from us related to the press release of Zuni Migoze’s performance in ViaVia Jogja, here we put it online both in English and Bahasa Indonesia. :)
——-
Kawan-kawan wartawan tercinta,
Bila kawan-kawan belum mendapatkan email dari kami berisi press release tentang penampilan Zuni Migoze di ViaVia Jogja, berikut kami berikan via online dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. :)
*****
Press Release
World Class African Musician Plays in Yogyakarta
Zuni Migoze may not be a name that we have heard before, but in her home country Kenya and in Africa, she is well known. She has shared a stage with famous musicians such as Angelique Kidjo, and she was nominated in the Best African Music category of the 2003 Kora All African Music Award in South Africa. After a successful performance at the World Music Festival in Ubud last month, she is now visiting Yogyakarta with her 5 person strong band.
Saturday, May 5, she will play in ViaVia Café. “The audience cannot resist dancing when they hear Zuni perform”, Meghan Pappenheim of the Bali Spirit Festival says and the initiator of the artist’s travel to Yogyakarta. “After having her in Bali, we just have to give more Indonesians the opportunity to hear her play.”
In Kenya Zuni is also known as an environmentalist and nutritionist. She is dedicated to teach women and children how to live healthy lives. She also loves to teach music to children.
Monday in Yogyakarta she will visit the Sanggar Anak Alam to share her African rhythms and roots with children of Yogyakarta.
“ViaVia Café is proud to sponsor Zuni’s visit to Yogyakarta. Zuni is a musician of infinite talent that will make us smile and dance. In addition she is an idealist and a development worker. We hope can inspire us to live better lives”, ViaVia Manager Romdi Sukardi says.
For more information, request for interviews and other media related concerns, please contact Romdi Sukardi, 081227051382
Concert
Saturday, 5th of May, at 19.30
ViaVia Café, Jl Prawirotaman 30, Yogyakarta
FREE ENTRANCE
——-
Press Release
Musisi Afrika Berkelas Internasional Bermain di Yogyakarta
Nama Zuni Migoze mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya, namun di Kenya dan Afrika, Zuni sangat terkenal. Zuni Migoze pernah berada dalam satu panggung dengan beberapa musisi terkenal lainnya, seperti Angelique Kidjo. Pada tahun 2003, Zuni dinominasikan dalam kategori Musik Afrika Terbaik dalam Kora All African Music Award di Afrika Selatan. Setelah penampilannya yang memukau dalam World Music Festival di Ubud bulan lalu, Zuni sekarang mengunjungi Yogyakarta bersama dengan 5 personil band-nya.
Pada hari Sabtu, 5 Mei 2012, Zuni akan tampil di ViaVia Café di Jalan Prawirotaman. “Tidak ada yang dapat menolak godaan untuk bergoyang ketika mendengar penampilan Zuni,” kata Meghan Pappenheim, salah satu anggota penyelenggara Bali Spirit Festival yang juga merupakan inisiator perjalanan Zuni dan kawan-kawan ke Yogyakarta. “Setelah Bali mendapatkan semangat Zuni, kami juga ingin memberikan kesempatan bagi tempat lain di Indonesia untuk dapat mendengar semangat Zuni dan kawan-kawan dalam bermain musik.”
Di Kenya, Zuni juga dikenal sebagai ahli lingkungan dan ahli nutrisi. Dia mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan cara hidup sehat kepada para wanita dan anak-anak. Zuni mengaku dia juga menikmati perannya ketika mengajar music untuk anak-anak.
Pada hari Minggu, 6 Mei 2012, Zuni akan berkunjung ke Sanggar Anak Alam untuk berbagi nuansa dan irama Afrika kepada anak-anak di Yogyakarta.
“ViaVia Café sangat bangga karena dapat mendukung kedatangan Zuni ke Yogyakarta. Zuni adalah seorang musisi dengan talenta yang luar biasa yang membuat kita tersenyum dan terus menari. Dan sebagai tambahan, Zuni adalah seorang dengan idealis dan bekerja untuk kehidupan yang lebih baik. Kami berharap Zuni dapat menginspirasi kita semua untuk dapat menikmati kehidupan yang lebih baik,” kata Romdi Sukardi, manager ViaVia Café.
Untuk informasi lebih lanjut, permintaan wawancara dan berkaitan dengan mesia, silakan menghubungi Romdi Sukardi, 081227051382
Konser
Hari Sabtu, tanggal 5 May 2012, jam 19.30
ViaVia Café, Jl Prawirotaman 30, Yogyakarta
GRATIS
Saturday, May 5, 2012
7:30pm
@ ViaVia Traveler’s Cafe, Jalan Prawirotaman 30
Move to African Dance Rhythms at this ONE NIGHT ONLY FREE CONCERT with Zuni Migoze and friends. Direct from Kenya, East Africa by way of the World Music Festival in Bali, Zuni will have you rocking out to her upbeat music.
Come to ViaVia in Yogya, THIS SATURDAY NIGHT, 5 May at 7:30pm. The tables will be cleared out. We’re ready to PARTY! Fantastic raffle prizes available with all proceeds to support The Bridge Foundation - Zuni’s nutrition, environmental, and cultural work in Kenya.
Share this with all your friends!
Zuni on youtube
http://www.youtube.com/watch?v=O1zykRFruHk&feature=youtu.be
Visit also her website:
http://www.zunimigoze.com/
———-
Ayo kita tarikan irama Afrika pada konser gratis dengan alunan musik dari Zuni Migoze dan kawan-kawan. Langsung dari Kenya, Afrika Timur dan World Music Festival di Bali, Zuni akan menggoyang kita dengan musiknya yang menghentak.
Hari Sabtu malam, 5 Mei pukul 19.30 di ViaVia Cafe Jogja meja-meja akan disingkirkan. Dan kita siap untuk BERPESTA! Akan ada juga doorprize menarik dengan tujuan untuk memberikan donasi pada The Bridge Foundation yang merupakan lembaga non profit yang bergerak di bidang gizi, lingkungan, dan budaya di Kenya.
Ayo, bagikan ke teman-teman lainnya! :)
Silakan klik untuk Zuni di Youtube:
http://www.youtube.com/watch?v=O1zykRFruHk&feature=youtu.be
Kunjungi juga website Zuni:
http://www.zunimigoze.com/
Sunday the 20th of May ViaVia Jogja will organize a garage sale to raise funds to support the development of a library in Sukamade. The sale will take place from 1 pm until 6 pm in ViaVia Travelers Café.
Here some more explanation:
Sukamade
Sukamade is a village in Meru Betiri National Park, which is famous for its turtles and the last spotting of the Javanese tiger. With only 500 inhabitants, Sukamade is a small village in the southeast of Java. Those who worship technology would be stunned in this area. The villagers have electricity from 6 pm until 10 pm and after that the village is dark and quiet. Moreover, Sukamade has no mobile phone nor internet coverage. There is one tree where villagers go to find a phone signal. Only in that one single spot!
Earlier in 2010, the government built a Junior High School for enhancing the educational level of the children, and in that way increasing their opportunities for future livelihood. However, the school facilities are limited; even for the teacher’s room, a classroom is ‘hijacked’.
Our efforts
In 2010 ViaVia got the idea to donate thousand books to the school. We believe that books are a window to the world. So we started a project to donate thousand fiction and nonfiction books for students aged from 7 till 16 years old.
In December 2011 we finished collecting books and set off to Sukamade. We traveled for four days, over sandy and rocky roads with books and shelves. Unfortunately, on arrival we discovered that the library building had not been built yet. As an alternative, we transformed the corner of the teacher’s room into a small library. We cleaned up the dust and arranged the books into the shelves. Now, the children in the remote area of Sukamade can already explore the world through books. But we want to do more!
Our Aim
Our aim is to improve the infrastructure of the library, so the children can operate in a stimulating learning environment; we would like to create a calm reading corner where the children can lose themselves in the books. Secondly ViaVia wants to donate more books, so the children can experience a complete variety of genres. Futhermore, we would like to train parents and volunteers in reading skills and library organization, in order to give proper guidance to the young readers.
Garage Sale
Through a garage sale we would like to raise money for this project. The idea is that you donate things that you do not need anymore; books you have already read or unused objects from home. If you do not have anything to donate, you can also make a snack that can be sold during the garage sale. The profit is integrally for the project.
Interested in donating something?
Bring your item or idea to ViaVia.
Or get in touch with:
Michelle Maes
Intern at ViaVia Café/Resto
maes.michelle@hotmail.com
+62 81328202557
“INDONESIA BERTUTUR”
Iphoneography Exhibition
30th April-21th May 2012
Opening Ceremony: Monday, April, 30th 2012
7.00 pm-till end
at ViaVia Travelers Cafe, Prawirotaman 30 Yogyakarta
Officiated by: Tarko Sudiarno (Wartawan Foto)
Opening Act by: Anggisluka & DJ. Latex
Artist: Anggito Rahman, Carla Broekhurizen, Doris Tichelaar, Gato Susilo, Grace Samboh, Heru Shaggy Dog, Max Jankovic, Mie Cornoedus, Tine Lemaitre, Wimo A. Bayang
“Just as photography once struggled to gain acceptance in the world of art, a new revolution is at hand. iPhoneArt and iPhoneography are leading this underground movement into the light. Where it goes from here is anybody’s guess” (IPA’ s Manifesto)
Berawal dari ketertarikan yang sama terhadap iPhone, dan kesukaan akan bepergian (travelling) , Mie Cornoedus dan Gato Susilo(Latex) menemukan bahwa iPhone memiliki kualitas yang tinggi pada kamera dan aplikasi-aplikasi nya.
Seni fotografi dengan iPhone, atau yang dikenal dengan istilah iPhoneography, berkembang pesat seiring dengan makin populernya iPhone. iPhone dengan fiturnya yang sangat memadai, mampu memenuhi kebutuhan mobile photography. Kualitas kamera yang baik dan juga aplikasi pengolahan foto yang banyak tersedia bagi iPhone, menjadikannya dapat diandalkan untuk aktivitas memotret, memungkinkan untuk melakukan editing foto tanpa harus menggunakan komputer. Beberapa aplikasi fotografi iPhone yang populer diantaranya adalah Instagram, Magic Shutter, ProHDR, TiltShift Generator, Iris, Snapseed, dan lain-lain.
Foto yang dihasilkan dari iPhone tidak hanya sekedar foto, tapi lebih dari itu; sebuah karya seni. Menariknya lagi, iPhone memiliki keterkaitan dengan beberapa komunitas yang anggotanya memiliki ketertarikan yang sama, (IPA /iPhoneArt, iPhoneography.com, iPhonezone, iPhoneflickr community.) dimana anggotanya dapat berbagi pengetahuan tentang iphoneography, bertukar pengalaman, dan memajang karya mereka. Hal ini penting, karena seni ini masih dianggap baru, sehingga dirasa perlu untuk membangun ilmu, baik secara teknis dan visual.
“Indonesia Bertutur “adalah interpretasi seniman atas Indonesia dan berbagai macam persoalan di dalamnya, dari berbagai sudut pandang, tidak hanya dari kacamata orang Indonesia itu sendiri, namun di luar Indonesia. Untuk itu mereka juga mengundang beberapa seniman dari luar Indonesia, yang juga mau berbagi pikiran dan tangkap tentang Indonesia, lewat iPhone nya.
Walaupun iPhone Art atau Iphoneography merupakan ide awal untuk membuat karya fotografi dengan menggunakan iPhone, tidak berarti bahwa kami (ViaVia) tidak terbuka untuk memamerkan karya via medium android dan windows mobile.
Rennie “EmonK” Agustine
ViaVia Cafe&Alternative Art Space
Press Release
“INDONESIA BERTUTUR”
Iphoneography Exhibition
30th April-21th May 2012
Opening Ceremony: Monday, April, 30th 2012
7.00 pm-till end
at ViaVia Travelers Cafe, Prawirotaman 30 Yogyakarta
Officiated by: Tarko Sudiarno (Wartawan Foto)
Opening Act by: Anggisluka & DJ. Latex
Artist: Anggito Rahman, Carla Broekhurizen, Doris Tichelaar, Gato Susilo, Grace Samboh, Heru Shaggy Dog, Max Jankovic, Mie Cornoedus, Tine Lemaitre, Wimo A. Bayang
“Just as photography once struggled to gain acceptance in the world of art, a new revolution is at hand. iPhoneArt and iPhoneography are leading this underground movement into the light. Where it goes from here is anybody’s guess” (IPA’ s Manifesto)
The initiators of this exhibition, Mie Cornoedus and Gato Susilo (Latex), share a passion for traveling and Apple technology. They early discovered the high quality cameras of the iPhone and the applications that go with it.
Art photography using the iPhone, also called iPhoneography, has grown steadily with the popularity of the iPhone. iPhone and its advanced technology has achieved to meet the needs of mobile photography. The quality of the camera itself and the multitude of various applications make it an ideal toy for photographers. Adding to its popularity is the features that allow photoediting without being connected to a computer. Some fo the most popular apps are Instagram, Magic Shutter, ProHDR, TiltShift Generator, Iris, Snapseed and other.
Photos generated through an iPhone have the potential of being not just photos, but works of art. And, connected by this passion for the iPhone, specialized communities are connected accross the worlds through sites such as iPhoneArt, iPhoneography.co, iPhonezone and iPhone flickr. Through the web, community members share works, knowledge and experience. This is important for the development of this new art genre.
“Indonesia Bertutur” is a show of artists’ interpretations of Indonesia and Indonesian affairs. The exhibition includes contributions of national as well as international iPhone enthusiasts.
Although the original idea came from iPhone Art and Iphoneography, ViaVia is also open to show works using android and windows mobile phone cameras.
More Info : Rennie “EmonK”
ph : +62 818 469067/+62 274386557
@ :semanismadu@gmail.com
Add :ViaVia Cafe&Alternative Art Space
Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
Indonesia
ViaVia Jogja memberi kesempatan bagi para seniman untuk memamerkan karyanya, untuk pemutaran film, debat dan diskusi. Kami juga membuka peluang “consignment” untuk karya seni, limited edition fine craft, dan artist merchandise.
Syarat&Ketentuan:
Karya dapat berupa karya 2 Dimensi/ 3 Dimensi, dapat juga berupa benda fungsional
Ukuran maksimal 100 x 100 cm (2 D), 30 x 30 x 30 cm (3 D)
Karya sudah siap pajang, juga siap dengan kemasan/packaging untuk dibawa
Jangka waktu konsinyasi 1-3 bulan
Kirimkan portfolio anda (foto karya dan Curriculum Vitae) dalam format file Microsoft Word/ Notepad/ Open Office), Foto Karya format jpeg, lengkap dengan keterangan/ data karya di bagian bawah foto karya.
Kirim via email ke:
semanismadu@gmail.com
Informasi lebih lanjut :
Rennie Emonk /Event Manager ViaVia Cafe&Alternative Art Space
Phone: +62-818-469-067
Email: semanismadu@gmail.com
ViaVia Cafe&Alternative Art Space
Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
———————--
J.O.U.R.N.E.Y
A Solo Exhibition by Harlen Kurniawan
14 Maret – 4 April 2012
ViaVia Travelers Cafe and Alternative Art Space
Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
“…ilmu pengetahuan itu lahir dari imajinasi”
Kalimat ini dikutip dari tulisan yang ada di tembok studio Harlen Kurniawan, mengajak kita untuk menyadari bahwa hal-hal besar dan luar biasa, berawal dari sebuah imajinasi kecil yang bernama ide.
Pameran tunggal Harlen Kurniawan kali ini berjudul “Journey” yang merupakan perjalanan sebuah ide menemui eksplorasi awalnya ketika bertemu dengan media kertas. Bagi Harlen, karya kertas adalah karya yang penting bagi seorang seniman. Karya kertas adalah karya murni tanpa rekayasa dan penambahan artistik. Membuat karya dalam media kertas bagi Harlen tidak ada beban. Justru melalui kertas, tanpa disadari muncul komposisi tersendiri. Pesan inilah yang coba disampaikan Harlen dalam pamerannya, bahwa karya kertas sama bernilainya dengan karya kanvas.
Akhir kata, sebuah kehormatan bagi ViaVia untuk bisa menggelar pameran tunggal bagi seniman yang begitu berbakat seperti Harlen Kurniawan. Selamat berpameran, Harlen Kurniawan. Semoga pameran ini dapat menjadi cerita besar di masa mendatang.
————————-
“…science was born from Imagination”
This quote is written on the wall of Harlen Kurniawan’s studio. All big ideas start from imagination.
Harlen Kurniawan’s solo exhibition is titled “Journey” and talks about the journey of an idea meeting a piece of paper. For Harlen, doing artwork on paper is important for him, because he sees it as a pure form before technical and artistic media kick in. For Harlen it feels more free to make art on paper. Just through paper, certain compositions appear unwittingly. Harlen tries to tell us through this exhibition that artistically spoken, artwork on paper is as valuable as artwork on canvas.
Finally, its an honor for ViaVia to have this opportunity to organize a solo exhibition for such a talented artist like Harlen Kurniawan. Congratulations for this exhibition, we hope it will be a great journey for the future.
Putri Santoso, Event Manager
0817 547 8258
santoso(dot)putri(at)yahoo(dot)com
—————————-
Tulisan dari Franky Pandana
Saya tidak bermaksud mengagungkan medium kertas tetapi pada saat yang sama saya juga tidak menyepelekannya. Sebab yang sejati dalam sebuah karya adalah seni itu sendiri - apa pun media yang dipakai oleh penciptanya. Walaupun mungkin sukar untuk mendeskripsikan seni itu, ada beberapa unsur yang tersirat sehingga sebuah karya layak disebut sebagai karya seni, misalnya: kemampuan teknis, rasa atau emosi, pemaknaan dan sebagainya.
Pada pameran Harlen kali ini yang ia berikan judul “JOURNEY”, menurut saya, adalah sebuah “kebetulan” (tetapi bukan “kecelakaan”) bahwa ia menggunakan medium kertas untuk menampung aliran seni yang ada dalam dirinya. Mungkin saat ini ia merasa kertas lebih bisa menerima dorongan-dorongan estetikanya. Mungkin juga ia merasa kertas itu lebih praktis, sebab dapat ditemukan di mana-mana dan mudah dibawanya kemana-mana.Atau bisa saja ia tertarik merespon apa yang tercetak di kertas-kertas tersebut.
Jika “dugaan-dugaan”-ku adalah benar adanya, maka yang dapat kita rasakan dalam karya-karya tersebut adalah kebebasan. Ditambah lagi karya-karya tersebut bisa merupakan catatan perjalanan estetika atau juga sebuah artefak perjalanan hidup Harlen. Kepada sahabatku, Harlen, saya ucapkan selamat berpameran dan semoga ia tetap menikmati perjalanannya menjelajahi dunia seni rupa.
Franky Pandana
Medan, 28 Februari 2012
I am not trying to glorify the medium ‘paper’, but at the same time I also do not underestimate it. Because the value and the durability of an artwork lays in the art - whatever the media used by its creator. Although it may be difficult to describe art, there are some elements implying that an artwork is worthy of being called art, for example: technical ability, feeling or emotion put in it, its meaning, and so forth.
For this exhibition of Harlen, which he titled “JOURNEY”, it is in my opinion a “coincidence” rather than an “accident” that he chooses to use the medium of paper to accommodate his inner flow of art. Maybe this time he felt that paper was a more receptive medium for his aesthetic impulses. Or perhaps he felt that paper was more practical, because it can be found everywhere and it is easy to carry anywhere. Or he was inspired to respond on what was already printed on the paper he uses.
If my observations are true, then I feel ‘freedom’ in these works of art. It could be seen as a way Harlen records his esthetical journey or even more as an artifact of his life journey.
To my best friend, Harlen, I congratulate you with this exhibition and hope you will always enjoy this journey of exploration in the world of art.
Franky Pandana
Medan, 28 Februari 2012
Teman-teman freelance guide ViaVia 2012,
Training dalam kelas akan dilaksanakan di Studio Yoga ViaVia (belakangViaVia Café Jl. Prawirotaman 30).
Training dalam kelas akan berlangsung selama 3 jam, dari pukul 16.00-19.00. Tidak ada alasan untuk terlambat ya.
Adapun jadwal training kita di Bulan Maret ini pada tanggal:
Minggu, 18
Selasa, 20
Rabu, 21
Jumat, 23
Minggu, 25
Selasa, 27
Rabu, 28
Setiap kandidat yang sudah diterima, harus selalu datang.
Untuk pertanyaan, silakan menghubungi:
travel@viaviajogja.com
Thank you guys for your interest to join and share with ViaVia Jogja. :)
This year recruitment for freelance guide has been closed, so guys, if you’re interested in joining us, you can try it again next year. Just keep following our tweet or post on Tumblr.
We’d like to thank to @JogjaUpdate and @JogjaLowker for always inform our news. :)
Also thank you for all of you guys who already came to ViaVia and join the interview.
And now, we would like to congratulate and welcome to our new members:
1. Reni Wahyuningtyas
2. Gerarda Agriveta C
3. Riza Taofiq
4. Kristy Prameswari
5. Fransisca Victoria S
6. Desy Triswiyanti
7. Arum Mustikawati
8. Yusup Hadi P
9. Asti Endah Proborini
10. Diyah Nurhidayati
11. Mukhlas Nuri
12. Wida Wahyuni
13. Rakyan Pawening
14. Rizkia Amelia Sania Putri
15. Dwi Linawati
16. Mohammad Noor Pamungkas
17. Dinda Ayu Kusumaningtyas
18. Ari Wahyudi Susatyo
Hope to see you soon guys!
xoxo
planetlunars asked: lamarannya dimasukin ke alamat jl prawirotaman 30 ya?
Untuk lamarannya bisa lewat email aja, biar hemat kertas.. :)
Kirim email ke travel@viaviajogja.com
see you! :)
