ViaVia Jogja / ViaVia Jogja Facebook

In 1994, a group of Belgian travellers met to share experiences from the road. They worried about the negative impact of mass tourism on the environment and local people, and shared ideas of sustainable tourism respectful of nature and culture. The dream to set up cafes around the world to implement their ideas developed. The first ViaVia opened in 1995. Today the ViaVia family stretches across 12 establishments on 4 continents.

Each ViaVia is set up in synch with its unique local environment. There is no such thing as a McViaVia witah fries. Instead ViaVia offers the best of World Kitchen and local delicacies. Whereas ViaVia in Argentina offers Tango lessons, ViaVia in Jogja offers trips to a Javanese village, religion tours or a taste of traditional medicine, Jamu. Whereas ViaVia in Senegal works together with street children.
ViaVia in Jogja offers art space to young local artists. ViaVia is also often the venue of concerts, Friday night Jazz, performance art, film festivals and debates. Parts of the ViaVia profits go to support educational, social and cultural projects in Jogjakarta.

________________________________________

Pada tahun 1994, ViaVia pertama kali dibentuk oleh beberapa orang Belgia yang merasa resah dan khawatir tentang pariwisata massal yang berdatangan ke tempat obyek wisata yang jarang dijamah dan dikunjungi. Menurut pendapat mereka hal tersebut lambat laun akan merusak budaya daerah setempat. Dari situlah muncul sebuah ide dengan membentuk sebuah tempat yang berkonsep sharing atau meeting place berbagai budaya dari seluruh penjuru dunia. Atau dengan kata lain sebagai tempat pertemuan orang-orang dari kebudayaan yang berbeda untuk saling tukar pendapat, tukar pengalaman, tukar ide dll.

Setelah kelahiran ViaVia yang pertama di Belgia, kemudian bermunculanlah ViaVia lain yang sekarang sudah tersebar di 12 tempat di 4 benua. (ViaVia di Jogja sendiri berdiri tahun 1995). Setiap ViaVia mempunyai aktifitas yang sangat khas, sesuai dengan budaya lokal masing-masing. Misalnya ViaVia Jogja mempunyai aktifitas perjalanan wisata yang salah satunya adalah tur jamu. Selain itu juga memberi kesempatan bagi para seniman untuk memamerkan karyanya, untuk pemutaran film, debat dan diskusi. ViaVia Argentina terkenal dengan kelas dansa tango dan ViaVia Senegal bekerjasama dengan anak-anak jalanan. Walaupun ViaVia mempunyai aktifitas yang berbeda, tapi tetap berpegang pada satu konsep: ViaVia percaya pada potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Dengan demikian ViaVia sedikit banyak membantu mempertahankan budaya lokal pada masing-masing negara.

ViaVia juga tidak hanya berpikir mencari keuntungan semata, karena sebagian dari keuntungan tersebut dipergunakan ViaVia untuk mendanai berbagai macam proyek sosial, pendidikan dan kebudayaan.

ViaVia memang dirancang sebagai tempat pertemuan yang mempunyai cita rasa khas kedaerahan setempat, tanpa meninggalkan kualitas internasional. Maka di ViaVia, kita tidak akan menemukan satu cita rasa karena ViaVia adalah bukan "Mc" ViaVia.